 | Memandang Keabadian | |
adalah keabadian... yang mata memandang tiada jemu yang hati mengharap penuh rindu hanya memandang keabadian... yang mengokohkan kaki yang menegakkan kepala yang meneguhkan hati pada setiap persimpangan yang lahir dalam badai tak takutkan raungan angin yang selalu menggenggam api jangan ancam dengan percikan air Ternyata iblis—semoga Allah melaknatnya—adalah yang pertama-tama melakukan perbandingan. Ketika Allah SWT bertanya kepada iblis tentang apa yang telah mengokohkannya dan memaksanya untuk tidak bersujud kepada Adam sebagaimana perintah Allah, iblis menjawabnya dengan sebuah perbandingan, “ Aku adalah lebih baik daripada dia. Engkau telah menciptakan aku dari api sedang Engkau menciptakan dia dari tanah. “
“ Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: "Bersujudlah kamu kepada Adam", maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah". “ QS Al A’raf (7) : 11-12.
Dan rupanya, iblis juga yang pertama-pertama menggunakan materialisme sebagai ideologinya. Iblis telah membuat analogi yang menyimpang dan salah melalui pengakuannya bahwa api itu lebih baik daripada tanah, sebab tanah itu berkarakteristik lembek, lunak, dan halus. Sedangkan api itu berkarakteristik membakar, kuat, dan serampangan. Jadi si terkutuk ini, hanya memandang kepada unsur asalnya, kemudian mengabaikan kemuliaan Adam sebagai ciptaan Allah yang sempurna.
Ideologi materialisme iblis—semoga Allah melaknatnya—telah membawanya kepada kesombongan yang kemudian Allah ganjar dengan mengusir iblis dari surga dalam keaddan terhina, kerdil, dan kecil sebagai imbalan atas ketinggian hati. Keyakinan iblis akan kebaikan dirinya karena tercipta dari unsur api bertentangan dengan sebuah prinsip yang telah Allah tetapkan bahwa ketinggian kedudukan tidak dapat dicapai kecuali dengan memurnikan ketaatan hanya untuk Allah SWT.
Kini, berapa banyak dari kita yang dengan sadar atau tidak telah menjadi pengikut-pengikut iblis—terjebak dalam perasaan lebih tinggi daripada yang lain, kemudian gagal merumuskan hakikat penciptaannya.
“ Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). “ QS. Al A’raf (7) : 16-17.
Iblis laknatullah telah berikrar akan menggunakan seluruh jalan—jalan kebaikan dan jalan keburukan—untuk menjerumuskan manusia. Jalan kebaikan dihalang-halangi olehnya sedangkan jalan keburukan dijadikan indah dalam pandangan manusia. Na’udzubillahi min dzalik.
Oleh KH. Rahmat Abdullah
Beberapa kali Ied kita, beberapa kali takbir dimalam dan siang hari raya-hari raya kita dalam beberapa tahun terakhir masih terus diliputi keprihatinan yang sangat dalam. Hari raya ditengah asap dan api; rumah ibadah, rumah tinggal, pasar dan sekolah yang hangus serta darah yang tertumpah, nyawa yang melayang dan tubuh-tubuh kaku yang terbunuh. Lebih-lebih lagi pahitnya, sebagian petinggi dan orang-orang yang diberi amanah oleh masyarakat mengesankan sikap mendukung, memaklumi atau mewajarkan kezhaliman. Inna lillahi wainna ilahi raji’un ! Tak ada yang lebih patut bagi para hamba ALLAH yang beriman kecuali semakin menundukkan kepala, merendahkan hati dan mengakui segala dosa, seraya memohon taubat dan ampunan ALLAH.
" Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan. Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. " QS. Al An'am [6] : 43-44.
Kisah haji adalah kisah pengorbanan, sama sebagaimana sejarah qurban itu sendiri. Tidak ada yang dapat menyuburkan iman seorang mukmin sebaik pengorbanan, seperti pupuk menyuburkan tetumbuhan. Seseorang yang berjiwa besar sangat sadar bahwa kemuliaan, kepemimpinan dan kebahagiaan tak mungkin diraih tanpa pengorbanan. Ujian merupakan syarat naik jenjang dan kepangkatan di hadapan ALLAH dan di tengah ummat manusia. ALLAH berfirman ( QS Al Baqarah [2] : 124)
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zhalim".
Seberapa besar ujian yang dihadapi para rasul, ulama amilin dan mujahidin ? Cobalah bayangkan satu episode perjalanan nabi Ibrahim AS. Imam Bukhari meriwayatkan :
“…… kemudian Ibrahim membawa isterinya beserta anaknya (Ismail AS) yang sedang disusukannya, sampai ia meletakkannya di Baitullah di Dauhah, diatas Zamzam (yang belum lagi muncul kala itu) di bagian masjid yang paling tinggi. Di Makkah waktu itu belum ada manusia dan belum ada air. Ia letakkan mereka disana. Ia bekali mereka dengan sekantung kurma dan sekantung air dan segera bergegas pergi. Ummu Ismail mengikutinya sambil bertanya “Wahai Ibrahim, akan kemana kau pergi meninggalkan kami di lembah ini tanpa siapa-siapa tanpa apa-apa ?”. Diucapkannya kalimat itu berulang-ulang, namun ia tak juga menoleh. Akhirnya Ummu Ismail bertanya : ALLAH kah yang menyuruhmu melakukan ini ?” Ia menjawab : “Ya”. Ummu Ismail berkata : “jika begitu, tentulah Ia takkan sia-siakan kami”, kemudian ia kembali dan Ibrahim berangkat. Sesampainya di tsaniyah (jalan tinggi di bukit) tempat mereka tak lagi melihatnya, ia hadapkan wajahnya ke Bait Allah, berdoa dengan beberapa kalimat dan mengangkat kedua tangannya :
Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebaha-gian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-ta-naman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada me-reka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mu-dahan mereka bersyukur. QS. Ibrahim [14] : 37
Lihatlah, betapa lurusnya keluarga ini memandang perintah ALLAH. Betapa ringannya mereka melaksanakan titah agung ini. Mereka utamakan ketaatan daripada kesenangan pribadi. Dari ketiga permintaan, ternyata yang pertama dimintanya agar keturunannya menjadi penegak shalat, kemudian untuk menopang da’wah ia minta mereka dicintai ummat manusia, barulah per-mintaan ketiga agar ALLAH memberikan mereka rizki. Padahal keadaan sangat sulit; tak ada sanak, kerabat bahkan manusia, tak ada air dan sumber makanan. Hanya mereka berdua; seorang perempuan yang baru melahirkan dan bayi kecil yang baru beberapa belas atau beberapa puluh tahun kedepan diangkat menjadi rasul.
Dimana keluarga modern hari ini dengan keturunan yang sangat terjaga dan tercukupi, bahkan dimanjakan makan minum mereka dibandingkan mereka yang serba kekurangan dan jauh dari kesenangan? Lihatlah bedanya keluarga dunia, benda dan nafsu dibandingkan keluarga akhirat, iman dan akhlaq. Apa yang mampu dihasilkan keluarga modern dengan kecukupannya dibandingkan keluarga para rasul dan orang-orang saleh dalam kekurangan mereka. Soalnya bukan soal kaya atau miskin, tetapi keterikatan dan kesetiaan mereka kepada ALLAH, seperti sifat para pemakmur masjid dan jamaah kebajikan :
Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada suatu hari saat hati dan penglihatan menjadi guncang. QS. An Nuur [24] : 36-37
Bagaimana para nabi tahan diejek dan dikucilkan, difitnah dan diintimidasi, dibunuh dan diusir dari tanah air, suatu hal yang tak pantas dilakukan terhadap manusia-manusia jujur di tengah bangsanya, yang hewanpun tak pernah mendapat perlakuan zhalim dari mereka.
Dari Urwah, dari Aisyah RA, beliau pernah berkata : “Demi ALLAH wahai ananda, pernah kami memperhatikan hilal (bulan sabit), kemudian satu hilal, sampai tiga hilal dalam dua bulan, tak ada api yang menyala di rumah Rasulullah SAW”. Kubertanya : ‘Apa yang menghidupimu selama itu?’ Beliau menjawab : “Air dan kurma. Hanya saja Rasulullah SAW punya tetangga yang memiliki kambing susu, mereka mengirimkan sebagian susunya untuk minuman kami”
Berkata Utbah bin Ghazwan dalam satu khutbahnya : “Sungguh kulihat diriku satu dari tujuh orang sahabat bersama Rasulullah SAW, tak ada lagi makanan pada kami kecuali dedaunan pohon, sehingga bengkaklah kerongkongan kami. Kutemukan sehelai mantel, kubelah dua dengan Sa’d bin Malik, setengahnya kupakai dan setengahnya lagi dipakai Sa’d. Hari ini setiap kami - tanpa kecuali - telah menjadi amir (gubernur) di kota-kota besar. Aku berlindung kepada ALLAH agar tidak menjadi besar dalam pandangan sendiri dan kecil dalam pandangan ALLAH”
Apa yang dipanen sebuah bangsa muslim yang besar ini, saat banyak orang tua hanya berfikir ketika mendaftarkan anaknya ke sekolah, semoga ia kelak punya kedudukan yang basah bila jadi pejabat, menjadi orang pintar yang dapat kaya dalam waktu singkat atau menjadi santeri yang pandai berceramah sehingga laris dan mudah menghimpun pengikut serta segala kekayaan yang menyusulnya. Betapa rentannya semua ini menghadapi konflik horizontal, saling bunuh, penghancuran dan pembakaran harta sesama, pemanjangan derita rakyat dengan KKN baru, ketidakpedulian terhadap munculnya berbagai kemunkaran, maraknya perjudian gelap dan terang, 2 juta mangsa narkoba yang melumpuhkan bangsa ini, pelacuran dengan alasan klasik kesulitan hidup.
Sebuah masyarakat adalah cermin keluarga didalamnya. Kepemimpinan yang sehat selalu berfikir bagaimana melayani, mengayomi dan mendidik bangsa ke arah kemuliaan. Bukan mencengkeram mereka dengan kejam dengan alasan pendewasaan, pengamanan atau perlindungan, tidak pula membiarkan mereka bebas tanpa kendali dengan alasan apapun, baik HAM, demokratisasi atau pemberdayaan masyarakat.
Sesungguhnya dari berbagai penyikapan bangsa terhadap para rasul mereka, kita dapatkan pelajaran dan rambu-rambu sangat berharga.
Bila sikap ikhlas, ketundukan diri dan pengorbanan, menjadi jiwa bangsa, maka generasi yang ada akan mendapatkan begitu banyak keberkahan. Lihatlah cermin perempuan terdidik seperti Ummu Ismail AS yang dengan yakin mengatakan : “Idzan la Yudlayyi’ana (Kalau begitu Ia tak akan sia-siakan kami)”. Dari rahim dan asuhan mereka akan lahir generasi Ismail AS yang dengan yakinnya menjawab :
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesung-guhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapak-ku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". QS. Ash Shaffat [37] : 102
Bila kebodohan dan nafsu telah menguasai kehidupan suatu masyarakat, maka mereka lebih suka memilih pola hidup materialistik dan hedonik; semua demi benda dan kesenangan. Tujuan-tujuan luhur menjadi kabur, nilai dan akhlak mulia menjadi luntur, persaudaraan, kasih sayang dan kesetiaan menjadi hancur.
Peran ibu dirumah tangga sangat strategis dalam membentuk bangsa. Bentukan baik atau buruk, amanat atau khianat, iman atau kufur, sangat terkait dengan sikap dan kiprah mereka. Ibu kandung atau ibu nasab, sama-sama mempunyai pengaruh besar dalam da’wah dan pendidikan.
Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth perumpamaan bagi o-rang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah dan dikatakan (kepada keduanya); "Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)". Dan Allah membuat isteri Fir`aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: "Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir`aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim". QS. At Tahrim [66] : 10-11
Ibunda nabi Ismail, ibunda kandung nabi Musa yang melahirkan, menyusukan dan merawatnya dan ibunda asuh nabi Musa, yang merawatnya dan aktif membelanya dari berkali-kali rencana pembunuhan oleh Firaun, sejak bayi sampai jadi nabi, semua menunjukkan adanya ta’tsir (pengaruh) berkesinambungan pada anak nasab ataupun anak asuh. Demikian halnya peran pendidik di tubuh bangsa sebagai tanggungjawab para pemimpin dan pemimpin tertinggi, bila telah menyimpang dari jalan yang lurus, bersikap seperti isteri nabi Nuh AS yang mengkhianati ajaran suaminya, maka anak-anak bangsa akan menjadi seperti anak nabi Nuh yang menolak bergabung dalam bahtera penyelamat.
D an bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir." Anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" Nuh berkata: "Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang". Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. QS. Huud [11] : 42-43
Kalau hukum, undang-undang dan para penegak hukum begitu keras kepada pelanggar lalu lintas. Kalau para polisi menangkap pengendara sepeda motor yang tak menggunakan helm, dengan dalih perlindungan batok kepala rakyat, lebih beralasan lagi bila mereka bertindak tegas melindungi isi yang ada dibalik batok kepala itu dari segala yang merusaknya, baik dengan memerangi sekeras-kerasnya tayangan, siaran atau penerbitan porno, permissive, atheis, syirik serta takhayul, khurafat dan bid’ah, yang telah menyebabkan lebih dari dua juta rakyat terutama generasi mudanya bergelimang dalam narkoba perjudian, zina dan berbagai sikap arogan dihadapan ALLAH Rabbul Jalal. Juga memerangi para koruptor yang telah menyengsarakan rakyat di negeri yang kaya raya ini. Kalau kekuasaan, kekayaan dan berbagai ni’mat yang dilimpahkan kepada suatu bangsa, pemerintah dan rakyatnya, maka kesombongan akan menjadi perhiasan dan kebanggan mereka. Da’wah kebajikan dianggap gangguan, amar ma’ruf nahi mun-kar dianggap makar, karena semua tak suka dihalangi dari aksi bunuh diri massal dalam maksiat yang terlaknat itu. Simaklah komentar bangsa-bangsa dimasa lalu kepada para rasul mereka :
Kaum Nabi Luth (QS. Al A'raf [7] : 82 dan QS. An Naml [27] : 56)
Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: "Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri."
Kaum nabi Shalih (QS. Huud [11] : 62)
Kaum Tsamud berkata: "Hai Shaleh, sesungguhnya kamu sebe-um ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, a-pakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? dan sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami."
Kaum Musyrikin Quraisy kerabat Rasulu’LLAH Muhammad SAW (QS. Al Anfal [8] : 30)
Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.
Taqwa telah menjadi kalimat yang begitu gampang diucapkan sembarang mulut, padahal ia adalah sebuah hakekat, bukan klaim atau akuan, bukan pula pameran dan kepura-puraan. Ketika melihat melimpahruahnya jamaah haji, bertuturlah seorang kha-lifah : “Oh, alangkah sedikitnya orang haji dan alangkah banyaknya wisatawan”. ALLAH mengingatkan tentang hakekat qurban :
Daging-daging dan darah qurban itu sekali-kali tidak dapat mencapai Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. QS. Al Hajj [22] : 37
Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW menyatakan :
Dari Abi Hurairah RA, ia berkata : ‘Rasulullah SAW bersabda : “Seorang muslim adalah saudara muslim, ia tak boleh mengkhianatinya, mendustainya, menghinakannya. Setiap muslim haram bagi sesama muslim ; kehormatannya, hartanya, darahnya. Taqwa disini (beliau memberi isyarat ke dadanya). Cukuplah seseorang (menjadi) jahat karena menghina saudara muslimnya”
Dari Sa’d bin Abi Waqqash RA, beliau berkata : “Akulah orang Arab pertama yang melemparkan tombak di Jalan ALLAH. Sungguh kami pernah berperang bersama Rasulullah SAW, tanpa punya makanan selain daun hublah dan samur ini. Sungguh kami buang air seperti kotoran domba, tanpa campuran” (Muttafaq Alaih, Bukhari Muslim). Oleh KH. Rahmat Abdullah
Suatu hari, di hadapan panglima Rustum. Para penasehat Panglima Rustum telah membuat gapura pendek. Tujuannya jelas, agar panglima Muslim, Ribi bin Amir terpaksa menghadap kepada Rustum dengan cara membungkuk. Ini cara lain untuk membuat kehinaan. Namun, apa yang membuat Ribi bin Amir tidak langsung saja maju ke hadapan Panglima Rustum dengan membungkukkan kepala? Hanya dalam hitungan detik, Ribi memutar tubuhnya dan membungkuk. Akibatnya sangat fatal bagi sang Rustum. Ribi bin Amir telah datang dengan benar-benar membungkuk, namun mendahulukan belakang tubuhnya.
Sebagai kisah mungkin hal ini masih dapat diperdebatkan, namun ribuan fakta masa kini dan masa lalu serta masa depan, insya Allah, menunjukkan bahwa hal semacam itu bukan barang langka di dunia kita. Inilah kasus tuan makan senjata. Jangan cobacoba memberi hina kepada pemilik izzah, karena Ia akan balik mengembalikan hina kepada penghinanya, tanpa delik hukum. Yang lahir dalam badai tak takutkan raungan angin. Yang selalu menggenggam api jangan ancam dengan percikan air. Tanpa izzah imaniyah, sukar membayangkan seorang Sayid Quthub menggoreskan bait-bait tegar yang kerap dilantunkan anak-anak muda di hampir seluruh dunia: Saudaraku, engkau merdeka di balik penjara Saudaraku, engkau merdeka dihimpit belenggu Bila kepada Allah engkau berjaga Makar musuh takkan dapat mencederaimu
Izzah & Jiwa Merdeka
Setelah penat tak menemukan bukti kesalahan yang ditimpakan kepadanya, suatu saat pihak kejaksaan yang memeriksa Sayid Quthb menyodorkan selembar surat pengakuan dosa, seraya permohonan maaf yang mereka minta agar ditandatangani Sayid. Apa jawab Sayid Quthb? “Jari telunjukku yang setiap hari bersaksi akan keesaan Allah, terlalu hina untuk mau menulis suatu pengakuan yang tak pernah kulakukan. Bila aku dihukum secara benar, aku rela dengan hukum kebenaran. Bila vonis dijatuhkan secara bathil, aku terlalu hina untuk meminta belas kasihan dari (pemerintah) yang bathil.”
Dalam belantara perjuangan Islam, mudah menemukan suatu gerakan yang lincah melangkah, cepat berkernbang dan inovatif dalam gagasan, namun tak semudah itu melihat yang bertahan dalam keaslian (ashalah). Demikian halnya kita masih dapat menemukan gerakan yang konsisten dalam keasliannya namun tidak otomatis lincah bergerak, cepat berkembang dan inovatif dalam gagasan. Semoga ini tidak ada hubungannya dengan hal keterasingan (ghurbah) dan orang-orang ghuraba di akhir zaman. Kita hanya tahu dari penda’wah agung, Rasulullah saw adab-adab dan kiatkiat da’wah, yang dengannya jaminan-jaminan keberhasilan menjadi lebih nyata. Ia tidak berkaitan dengan kapan itu akhir zaman, kecuali sedikit isyarat yang lepas dari angka tahun, bulan atau tanggal.
Keajaiban Sejarah
Ajaib cara Allah mendesain sejarah untuk mereka yang tanggap akan isyaratnya. Semoga ibunda nabi Musa AS tetap teguh hati melaksanakan perintah Allah untuk melarung bayinya, seandainya pun ia diberi tahu anak sejarah ini akan menerobos sejak dini hari ke sarang musuhnya di istananya: Firaun la’natullah ‘alaih. Kisah keyakinan dan keteguhan ini juga berlaku ketika Ibrahim alaihissalam tak lagi peduli bagaimana ia meninggalkan bayinya yang baru lahir ke dunia di kesenjaan usianya yang menginjak tahun ke 85 dan merelakan isterinya yang sangat dikasihinya. Ia cuma punya satu pilihan, meninggalkan mereka di lembah yang tak bertanaman di sisi rumah-Nya yang dimuliakan (Qs. Ibrahim: 37). Selebihnya adalah sebuah blue print kepastian yang tak pernah terlawan. Jalan-jalan kemenangan yang otak picik kita kerap memandangnya sebagai jalan zigzag dan adegan yang menegangkan.
Nabi Nuh alaihissalam bukan hanya sekadar yakin da‘wahnya yang nampak melawan arus, bahkan tercermin dari kelakuannya yang membangun bahtera di dataran tinggi. Ia pun mampu menjawab dengan penuh yakin “Bila kini kalian mengolok-olok kami, kamipun kelak akan mengolok-olok kalian sebagaimana kalian hari mengolok-olok kami (Qs. Hud: 38), jauh sebelum segalanya menjadi terang dan banjir masih lama lagi datang. Menahem Begin, teroris dan mantan perdana menteri Israel, sengaja datang hari Jum’at untuk mengikuti acara pemakaman presiden Anwar Sadat. Konon dia rela tidur di tenda pasukan pengaman presiden, padahal jarak tanah rampasan tempat tinggalnya dengan pemakaman dapat dijangkau dalam beberapa menit. Pasalnya, orang Yahudi tidak boleh naik kendaraan pada hari Sabtu. Beberapa negarawan Yahudi berjalan beberapa mil, waktu pemakaman salah seorang sahabat mereka, karena hari Sabtu itu mereka tidak boleh naik kendaraan, menyalakan lampu, dan larangan-larang lainnya. Orang-orang Yahudi itu tidak nyaman bila tidak komitmen dengan ajaran keyahudiannya. Harusnya semua ini menjadi cermin bagi sejumlah kalangan yang merasa tak nyaman memenuhi komitmen keislaman dan lebih bangga dengan perdikat lainnya.
The Man Behind The Gun
Ajaib ummat yang punya kitab sempurna, tak bisa dirusak oleh kebathilan dari arah manapun datangnya. Mengapa begitu terpuruk citranya oleh para penganutnya. Kecuali pada momen-momen kekerasan yang dilakukan terhadap ummat, selebihnya militansi adalah sesuatu yang naif, tabu dan sia-sia. Krisis keyakinan telah melanda,diawali oleh krisis informasi, krisis ilmu. Yang berilmu juga terkikis kemauan berjuangnya oleh keberuntunan kegagalan, baik kegagalan pribadi dalam mengaplikasikan nilai-nilai Islam, maupun kegagalan kolektif oleh kebutaan kolektif akan panduan, dan keputusaasaan kolektif akan kembalinya izzul Islam wal Muslimin. Inilah su-uzzhan (buruk sangka) kepada Allah yang telah begitu parah.
Alkisah, suatu hari Khalifah II Umar bin Khatthab ingin melihat pedang seorang mujahid legendaris yang pedangnya bagaikan baling-baling mencukur habis kepalakepala musuh. Setelah sejenak memandanginya, ia kembalikan pedang itu. Bagaimana kesan khali-fah melihat pedangku?, tanya si empunya pedang. “Beliau tidak nampak kagum,” jawab si pembawa pedang. Suatu hari pemilik pedang itu mengirim surat kepada Umar. “Demikianlah pedang yang Anda sudah dengar beritanya, wahai Amirul Muminin, hanya sayang saya tak dapat mengirimkan pedang itu dengan tangan yang menggerakkannya.” Hari ini pengaruh kemudahan dan fasilitas pemanjaan telah melenakan banyak kalangan. Bukan salah teknologi dan iptek, atau salah bunda mengandung, melainkan ketidakmampuan jiwa untuk memberontak dari belenggu nafsu dan kelemahan diri. Padahal sejarah tak pernah dibangun kecuali oleh tangan dan hati orang-orang yang yakin.
Bukan soal haq atau bathil, tetapi buah keyakinan itu tumbuh dari akar dan batang yang sehat dan kuat. Dengan keyakinan yang teguh, langkah yang mantap di atas bimbingan wahyu, dan semangat sabar berkurban, bangsa Arab yang tak pernah dikenal dalam peta dunia dan tak dilirik oleh penjajah manapun itu, akhirnya menjadi guru dunia yang arif, bijak dan adil.
Wallahu’alam i aku berterima kasih atas kerelaanmu mengahwiniku sesungguhnya kerelaan itu satu keberanian dan ada orang tidak beruntung kerana terlalu berani. ii aku telah menemui kau bagai sebuah kolam yang terlalu jernih kejernihan itu membuat aku malu kerana ia jelas membayangkan kekeruhan di tubuhku. aku bersyukur pada pertemuan ini dan meminta maaf padamu kerana sesekali seruling yang jauh mencuriku dari pelukanmu. Zurinah Hassan Dewan Sastera, Januari 1979 Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat). Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. Dan katakanlah: "Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong. Dan katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap". Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa. Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: "Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". QS Al Isra’ [17]:78-85
PEREMPUAN. Apa yang segera melintas dalam benak kita untuk kemudian kita asosiasikan dengan kata-kata ini? Halus. Lembut. Lemah. Perasa. Mudah menangis. Ataukah ada kosakata yang lain? Apapun itu, yang pasti kata-kata itu muncul dari rangkuman pengalaman, kejadian, fenomena, pengetahuan, dan pemahaman kita tentang perempuan.
Satu tak bisa terelakkan kemudian adalah deretan nama-nama perempuan yang dicatatkan sejarah atas apa yang mereka perbuat dan hasilkan untuk peradaban manusia; entah itu sesuatu yang baik ataupun sebaliknya.
Dalam untaian panjang sejarah bangsa kita, tidak salah jika dikatakan bahwa bumi Aceh Darussalam adalah salah satu yang paling banyak mencatatkan nama harum perempuan-perempuannya dalam lembaran sejarah. Siapa yang menyangsikan kehebatan seorang panglima laut perempuan, Keumalahayati, yang armada besarnya itu seluruhnya berisikan prajurit-prajurit perempuan Aceh. Seorang perempuan, namun musuh penjajah mana yang tak buat gentar olehnya? Deretan ratu-ratu Aceh mengikuti setelahnya sampai pena sejarah kemudian menuliskan nama Tjut Nyak Dien dengan huruf-huruf indah yang tebal.
Tanah Jawa bisa berbangga dengan putri-putri brilian yang pernah hidup dan berkarya di atasnya, Kartini juga Dewi Sartika. Kegigihannya memperjuangkan apa yang diyakininya baik untuk kaumnya, atas ijin Allah, berbuah pada sebuah tonggak pengakuan dan kesadaran akan berhaknya perempuan atas pendidikan. Perempuan-perempuan, namun siapa yang berani menyangkal kontribusi mereka atas perubahan dan perbaikan kehidupan bangsanya?
Begitulah sejarah manusia pernah menggoreskan tinta emasnya untuk perempuan-perempuan berharganya dan sejarah juga tidak membuat kita buta atas kenyataan pernah ada atau banyak perempuan-perempuan yang justru membawakan kelam atas kaumnya. Silakan Anda membantu saya untuk menyebutkan yang termasuk golongan yang kedua ini.
Keberatan jika saya katakan nama-nama berikut adalah perempuan-perempuan baja? Marie Antoinette. Ratu Isabella I. Ratu Elizabeth I. Lady Diana. Margaret Thatcher. Ibu Theresa. Marie Curie. Condoleeza Rice. Oprah Winfrey. Ibunda Khadijah. Aisyah. Ummu Salamah. Fatimah Az Zahra. Ummu Sulaim. Asma binti Abu Bakar. Asma' binti Yazid. Zainab Al Ghazali. Dan benar-benar masih banyak lagi deretan perempuan-perempuan yang layak kita pelajari kehidupannya.
Sejarah Islam sendiri mencatatkan bahwa dari laki-laki dan perempuan muslim yang hijrah meninggalkan Makkah Al Mukaramah, tidak satu pun dari perempuan muslim itu yang kemudian murtad dari keIslamannya, sementara dari golongan laki-lakinya ada yang kemudian berpaling dari Islam. Dalam keseluruhan sirah nabawiyah, tidak kurang dari 300 nama shahabiyah yang menghiasi kisah perjuangan dan penegakan Islam hingga sampai pada kejayaannya.
Saya sendiri belum membaca buku 7 Rahasia Menjadi Wanita Sukses: Meraih Kebebasan Finansial, Kesuksesan Kerja, dan Kebahagiaan Pribadi tulisan Marion Luna Brem yang sudah ada terjemahannya dalam Bahasa Indonesia. Mungkin nanti, tapi sekarang saya tertarik sekali melihat bagaimana Allah SWT dalam QS At Tahrim [66]:10-12 hendak Menunjukkan kepada kita bagaimana perempuan-perempuan yang baik dan bagaimana perempuan-perempuan yang buruk.
Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang
kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara
hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat
kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka
sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): "Masuklah ke
dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)". Dan Allah membuat isteri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman,
ketika ia berkata: "Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di
sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari
Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim, dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami
tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan
kalimat Rabbnya dan Kitab-KitabNya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang
taat.
Allah menjadikan istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth sebagai contoh perempuan yang buruk. Buruk dalam hal apa? Buruk di sisi siapa? Perempuan-perempuan ini buruk karena mereka tidak taat kepada Allah swt. Perempuan-perempuan ini buruk di sisi Allah SWT. Istri Nabi Nuh buruk di sisi Allah karena ia bersama kaum menentang Nabi Nuh dan tidak mau ikut dalam bahtera yang Nabi Nuh siapkan dan bersikukuh dalam kesombongannya kepada Allah swt. Istri Nabi Luth buruk di sisi Allah karena ia adalah orang yang memberi tahu kepada kaumnya perihal kedatangan tamu-tamu Nabi Luth yang tampan sedang kaum Nabi Luth di negeri Sadum itu adalah orang-orang yang justru memiliki kecenderungan kepada sesama jenisnya. Lalu Allah swt menghukum mereka bersama kaumnya, meski mereka adalah istri para Nabi--perempuan-perempuan yang berada dalam pengawasan hamba-hambaNya yang shalih.
Kemudian Allah menjadikan Siti Asiyah, istri Fir'aun dan Maryam putri Imran sebagai contoh perempuan yang baik di sisi Allah swt. Siapakah Fir'aun? Tak salah jika dikatakan bahwa Fir'aun adalah manusia paling durhaka kepada Allah di jamannya, bahkan ia mengaku bahwa dirinya adalah Tuhan. Luar biasa bukan, keteguhan seorang Siti Asiyah, yang meski berada di lingkup dekat Fir'aun, ia tetap istiqamah dengan ketaatan dan kesaksiannya kepada Allah swt. Maryam putri Imran diuji Allah dengan sesuatu yang sangat bertentangan dengan apa yang senantiasa ia jaga. Seorang perempuan yang senantiasa berada dalam mihrab dan sibuk dalam ibadahnya kemudian didapati hamil tanpa diketahui siapakah ayah si jabang bayi. Bisa Anda bayangkan golak dan gemuruh jiwa seorang Maryam putri Imran? Lalu ia tetap berada dalam ketaatan dan keimanannya kepada Allah swt. Dan yang dikabarkan Allah kepada seluruh manusia adalah bahwa Maryam putri Imran bukanlah seorang pelacur.
Apa yang menarik di sini? Allah tidak Menjadikan perempuan-perempuan ini sebagai perumpamaan untuk kita jika sesuatu yang mereka perbuat bukanlah sesuatu yang besar, pun ketika itu sebuah kemaksiatan kepada Allah swt sebagaimana yang dilakukan istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth.
Di sini kita bisa BELAJAR bahwa perempuan-perempuan ini menjadi perumpamaan karena apa yang mereka lakukan memberikan pengaruh yang signifikan kepada kaumnya, kepada masyarakatnya. Dan jika kita bersungguh-sungguh membaca dan memperhatikan bagaimana keempat perempuan itu--istri Nabi Nuh, istri Nabi Luth, Siti Asiyah istri Fir'aun, dan Maryam putri Imran, maka kita bisa belajar dari satu kesamaan yang mereka punyai; KEMANDIRIAN dan KETEGUHAN PILIHAN--sovereignty and strong determination.
Dan seperti itulah selanjutnya hingga hari ini, satu yang boleh kita yakini adalah bahwa perempuan-perempuan yang apa-apa yang telah mereka perbuat untuk dan pada dunia memaksa sejarah, tanpa syarat, untuk menuliskan nama-nama mereka dalam lembaran-lembaran--entah itu dalam rangka kebaikan dan keburukan; entah itu dalam keadaan taat atau maksiat kepada Allah swt--memiliki sesuatu yang tidak dimiliki perempuan-perempuan lainnya, juga kaum lelaki di sekitarnya; kemandirian dan keteguhan yang membaja. Sehingga tak akan salah jika mereka semua kita sebut dengan perempuan-perempuan baja, bukan karena mereka kehilangan kehalusan rasanya, namun karena mereka memiliki sesuatu yang membaja dalam dirinya, sesuatu yang membuatnya mampu melakukan sesuatu yang tidak biasa, lalu dengan itu ia berbuat untuk dunianya.
Signifikan, seperti kilau permata di lautan debu, begitulah perempuan-perempuan seperti mereka membuat manusia berdecak kagum lalu urusan-urusan mereka kembali kepada Allah swt.
Catatan penting untuk kita, saya dan Anda yang perempuan muslimah, bahwa di sisi lain kebenaran bahwa seorang suami adalah surga atau neraka seorang istri, ada kisah ini--istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth juga Siti Asiyah istri Fir'aun dan Maryam putri Imran--bahwa surga dan neraka adalah pilihan masing-masing kita.
Selanjutnya masing-masing kita, saya dan Anda perempuan muslimah, boleh memilih 1) menjadi biasa-biasa saja dan tenggelam bersama gelombang waktu; 2) teguh dalam kesungguhan dan bersungguh-sungguh dalam keteguhan bermaksiat kepada Allah; atau 3) teguh dalam kesungguhan dan bersungguh-sungguh dalam keteguhan untuk taat kepada Allah. Mari memilih dan selamat berjuang.
~~~ Terinspirasi oleh pak Bahtiar dan mbak Ida di Ia Yang Serupa Baja, taujih Ustadz Zairofi, dan mbak Upik yang sedang tesis Women dan Islamic Revivalism (Indonesian Case)
Ah, sejak kapan ya, jatuh cinta seperti ini?
Dulu, ketika masih berseragam putih abu-abu, rasanya tak sekali dua kali mendengarmu disebut-sebut. Meski masih 'lucu', cukup sering aku mendengarmu disebut-sebut teman-temanku yang anak ROHIS. "Iya... kasihan..."; mungkin ini komentar terbaikku ketika itu. Hmm..., naif sekali aku ketika itu, hanya mengutuki perangnya saja, tak mengerti benar mengapa Timur Tengah tak pernah sunyi dari desingan peluru dan dentuman meriam.
Ah, sejak kapan ya, jatuh cinta seperti ini?
Awal-awal aku mengikuti mentoring di kampusku, kadang aku bingung mengapa mata teteh mentorku membasah, setiap kali bercerita tentangmu. Lalu sekejap kemudian sudah mengalir membanjir dan kita sibuk berbagi tisu. Sungguh, aku tak benar-benar mengerti. Yang kutahu ketika itu, ketika seseorang sedang bersedih dan menangis, aku harus memberikan empatiku; ikut menangis atau paling tidak ikut bersedih. Aku memang sangat sayang dan hormat pada teteh mentorku itu (Salam cinta dan peluk hangat untukmu di Surabaya teh...), jadi mudah saja bagiku mengikuti liku emosinya. Memang begitu bukan kepada orang-orang yang kita sayangi?
Ah, sejak kapan ya, jatuh cinta seperti ini?
Tak ingat benar kapan tepatnya; lalu sering mataku panas membasah demi mendengar nasyid-nasyid tentangmu, meski aku sedang sendiri saja. Hmm... mungkinkah karena nasyidnya nasyid-nasyid melow ya? Ah, tidak juga. Hmm..., lupa kapan tepatnya, lalu aku sering melihat film-film tentangmu. Apakah aku yang memang sensitif dan mudah tersentuh atau ada hal lain yang membuatku begitu sedihnya melihatmu seperti di film-film itu? Lalu, Sering sekali, aku menjadi geram dan marah dalam tangisku itu.
Ah, sejak kapan ya, jatuh cinta seperti ini?
Duh, kenapa ya? Ketika itu, dadaku menbuncah gemuruh, mengetahui seorang lagi pemudamu meledakkan bom bersama dirinya. Dulu, dulu sekali, aku selalu berpikir orang-orang seperti itu adalah orang-orang bodoh; mengapa mereka tidak menghargai hidupnya sama sekali? Tapi hari itu, berkenalan dengan nama-nama itu; Yahya Ayyash al muhandis, Muhammad Fathi Farahat, Wafa Idris, dan panjang lagi deretan nama-nama itu; membersit seberkas iri di selip hati. Duh, kenapa ya?
Yahya Ayyash al Muhandis; Yahya Ayyash sang insinyur. Aku juga seorang calon insinyur ketika itu. Mart Siska Anggraeni al Muhandisah; hmm... tampak keren. Tapi bukan itu, benar-benar bukan itu, bukan keren atau tidak keren. Hanya tak menyangka aku tiba-tiba berpikir, apa yang bisa kuperbuat yang itu sebesar apa yang diperbuatnya, sehingga bukan aku sendiri yang mencatatnya 'al Muhandisah' itu, tapi sejarah sendiri yang mencatatkannya. Ah, aku ini, sering tenggelam sendiri dalam mimpiku.
Dan Muhammad Fathi Farahat yang belia itu, 17 tahun. Aku beberapa tahun lebih tua darinya, tapi aku merasa benar-benar malu, menyadari apa yang telah dibuatnya adalah sesuatu yang sangat besar. Ah, besar di mataku yang manusia ini mungkin sangat tidak penting, tapi ini adalah sesuatu yang BENAR-BENAR BESAR! Berkarya sedemikian rupa untuk RabbNya.
Hmm... Wafa Idris. Siapa bilang orang-orang yang mengenakan bom itu orang-orang yang tidak berguna lagi hidupnya? Ah, Wafa Idris ini adalah seorang yang cerdas; pandai sekali dalam studinya. Kalau dia melanjutkan pendidikannya, pastilah dia akan menjadi besar dan hebat. Tapi ia memilih kebesaran dan kehebatannya sendiri, yang itu bukan ukuran manusia, tapi ukuran yang ditetapkan RabbNya.
Ah, sejak kapan ya, jatuh cinta seperti ini?
Lalu aku memasukkan qunut na'zilah dalam sholat-sholatku ketika itu. Lalu aku bergabung bersama sahabat-sahabat yang turun ke jalan, melantangkan pembelaan kepadamu. Pergi ke Jakarta ketika itu, berbis-bis dari Bandung, berangkat tengah malam, lalu pagi-paginya berjalan kaki menggemakan pembelaan kepadamu di jalanan Jakarta. Ah, aku masih saja sering sesenggukan, meski dalam teriakan takbir yang kuharap sampai kepadamu.
Ah, sejak kapan ya, mencintaimu seperti ini?
Mendengar namamu disebut, seperti kejutan menyentak, menerbitkan jenak kesadaran. Mengucap namamu, ada seruak haru memenuhi hati, lalu menjadi biru dan sendu. Mengingatmu, sering membarakan semangat berjuang, lalu menenggelamkan diri, karena sejatinya belum ada yang benar-benar kuperbuat untukmu.
Ah, sejak kapan ya, mencintaimu seperti ini?
Yang pasti, cinta ini bukan mengada-ada. Mencintaimu adalah sebuah bukti kecintaanku kepadaNya. Mencintaimu adalah mengikuti teladan yang telah bertebaran di penjuru bumi Islam. Ah, aku pun yakin, semua karena Allah menghendakinya, " dan (Allah) Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana. " QS. Al Anfaal [8] : 63.
Duh, bagaimana ya, membuktikan cinta padamu?
Begitulah..., setiap yang jatuh cinta, tiba-tiba menjadi penyair yang piawai. Tapi cinta tidak hanya butuh kata-kata bukan? Sementara sepanjang putaran sejarah, telah dituliskan berjuta untaian kata cinta untukmu, bahkan oleh mutiara-mutiara kenabian terdahulu. Berjuta jiwa telah menemui kehidupan bersama RabbNya, karena pembelaannya kepadamu.
Duh, bagaimana ya, membuktikan cinta padamu?
Sementara aku...? Aku masih disini saja, disibuki dengan duniaku sendiri. Ah, jika kata memang tak sekedar rangkaian huruf-huruf, ingin benar seisi jagat mengetahui; aku mencintaimu, palestina... Ah, jika sebuah janji itu berharga, ingatkan aku akan janjiku; tak akan berhenti mencintaimu, tak akan menyerah berjuang untukmu, sekuat diriku... Ah, jika sebuah doa itu senjata, aku memohon kemudahan dan kekuatan kepada Rabbku; ijinkan aku selalu terjaga dalam pembuktian cintaku...
Bulan Rajab akan kita masuki beberapa hari lagi, 26 Juli 2006 ini insyaAllah. Ini berarti bulan depan adalah bulan Sya'ban dan dua bulan lagi kita akan bertemu dengan Ramadhan, Insya Allah, jika Allah Mengijinkan. Ramadhan adalah bulan berjuta keutamaan. Sya'ban juga memiliki keutamaannya sendiri, terutama bagi mereka yang bersiap-siap, melakukan pemanasan, agar bisa langsung tancap gas begitu Ramadhan tiba.
Lalu bagaimana dengan bulan Rajab? Bulan Rajab termasuk bulan haram dan puasa di bulan-bulan haram itu maqbul (diterima) dan musthahab (disukai) dalam keadaan apa pun. Bulan haram adalah bulan yang peperangan dilarang atau diharamkan dalam bulan itu. Bulan haram ada empat bulan, yaitu Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam
ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat
bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka
janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang
empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun
memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang
yang bertakwa." QS. At Taubah [9] : 36.
Sunnah berpuasa di bulan haram diriwayatkan dari kisah Mujibah al Bahiliyah, dalam hadits riwayat Abu Daud. Ia menemui Rasulullah saw lalu pergi. Setelah setahun berlalu, ia datang lagi dengan penampilan dan keadaan yang telah berubah. Ia berkata, "Wahai Rasulullah, engkau mengenalku?" "Siapa kamu?", tanya Rasul. Ia menjawab, "Saya Al-Bahili, yang pernah datang padamu tahun lalu." Beliau menjawab, "Apa yang mengubah dirimu, padahal dahulu engkau berpenampilan bagus?" Ia menjawab, "Saya tidak makan selain pada waktu malam semenjak berpisah denganmu. " "Mengapa engkau menyiksa diri?", tanya Rasul. Beliau lalu meneruskan, "Puasalah pada bulan sabar dan sehari setiap bulan." Ia berkata, "Tambahkanlah karena aku kuat melakukannya." "Puasalah dua hari.", jawab Rasul. "Tambahkanlah.", tawarnya. "Berpuasalah tiga hari.", jawab Rasul. "Tambahkanlah.", pintanya lagi. Beliau menjawab, "Puasalah di bulan haram lalu tinggalkanlah, puasalah di bulan haram lalu tinggalkanlah, puasalah di bulan haram lalu tinggalkanlah." Beliau berkata sambil menunjukkan tiga jarinya, menggenggam lalu melepaskannya.
Namun tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW melakukan puasa sebulan penuh pada bulan Rajab. Sedangkan hadits-hadits yang menceritakan bahwa kalau melakukan shalat ini dan itu akan mendapatkan ganjaran ini dan itu, jika melakukan puasa sejumlah hari akan mendapatkan ganjaran ini dan itu, atau barang siapa beristighfar akan mendapatkan ganjaran ini dan itu; kebanyakan adalah hadits dhaif dan mungkar. Misal hadits, "Rajab adalah bulan Allah, Sya'ban adalah bulanku (Rasulullah SAW), dan Ramadhan adalah bulan umatku."; hadits ini oleh para muhaddits dimasukkan sebagai hadits palsu dan mungkar. Meski demikian, tidak berarti kita tidak boleh shalat, puasa, atau pun istighfar pada bulan Rajab ini.
Jika pernah mendengar puasa di tanggal 27 Rajab, maka DR. Yusuf Qaradhawi dalam buku Fiqh Puasa-nya memasukkan puasa ini sebagai puasa bid'ah. Orang-orang yang berpuasa pada tanggal ini melakukannya karena malam 27 Rajab adalah malam Isra' dan Mi'raj Nabi Muhammad SAW.
Dalam hal ini, Ibnu Taimiyah berkata, "Tidak dikenal oleh seorang pun dari kalangan kaum muslimin yang menjadikan malam Isra' sebagai malam istimewa, berbeda dengan yang lain. Para sahabat dan tabi'in tidak pernah mengkhususkan malam Isra' dengan amalan-amalan tertentu, tidak juga mengenangnya dengan acara-acara tertentu. Oleh karena itu, tidak ada malam--termasuk malam Isra', yang dianggap sebagai malam yang paling utama bagi Rasulullah SAW. Tidak ada dalil yang diketahui tentang bulannya, tentang 10 harinya, apalagi tentang hari H, bahkan nukilan tentang itu, semua terputus riwayatnya dan saling berselisih. Tidak ada yang qath'i tentang itu dan tidak ada syariat bagi kaum muslimin yang mengistimewakan malam itu dengan shalat atau lainnya."
Sehingga, yang paling baik bagi kita untuk bulan Rajab ini adalah memperbanyak amalan-amalan shalih dan memperbanyak puasa karena keutamaan bulan haram, serta tidak berpuasa sebulan penuh layaknya bulan Ramadhan; bukan karena ganjaran ini dan itu yang keshahihan syari'atnya tidak bisa dipertanggungjawabkan, tetapi dalam rangka mempersiapkan diri menjelang pertemuan dengan Ramadhan.
Wallahu a'lam bishshawab.
Referensi: Fiqh Puasa, DR. Yusuf Qaradhawi Fiqh Ramadhan, Ahmad Sarwat, Lc


Bumerang atau Boomerang, pernah tahu ini kan? Boomerang adalah sebuah kelompok musik rock asal Surabaya yang resmi berdiri 8 Mei 1994; bertepatan dengan masa-masa aku menanti kelulusan SD-ku di Malang, kampung halaman. Apakah aku termasuk penggemar beratnya semenjak mula mereka berkiprah di blantika musik Indonesia? Mungkin akan nyaris seru jalan hidupku jika demikian adanya. Sayangnya, musik rock sama sekali bukan gayaku, kecuali lagu It's My life-nya Bon Jovi dan We Are The Champion-nya Queen.
Pernah dengar bumerang yang lain kan? Yap, benar. Bumerang adalah senjata khas suku Aborigin di Australia. Bumerang adalah senjata yang bisa kembali ke pelempar ketika dilempar. Gerakan bumerang adalah kombinasi antara translasi dan rotasi, mirip dengan bilah baling-baling helikopter. Mungkin Anda sekarang terlintas sebuah pertanyaan, mengapa grup musik asal Surabaya itu, mengganti nama band semula--Lost Angels, menjadi Boomerang. Sayangnya kita tidak akan membahas itu kali ini....
If you wonder, how boomerang works, then we have something in common. Sebenarnya ternyata, ada dua macam bumerang, bumerang yang bisa kembali ke pelempar--returning boomerang, dan bumerang yang tidak bisa kembali. Tentu saja yang menarik adalah returning boomerang, karena untuk membuat memerlukan perhitungan khusus agar ringan dan bisa kembali ke pelempar ketika dilempar. Jika dilemparkan dengan benar, returning boomerang akan terbang di udara, membentuk jalur edar lingkaran dan kembali ke titik awal ia dilemparkan.
Jika kita melemparkan sebatang kayu yang lurus, ia akan bergerak ke satu arah, terus meluncur, sampai akhirnya gravitasi menariknya jatuh ke tanah. Lalu bagaimana bentuk bumerang yang unik itu bisa membuatnya berada di udara lebih lama dan bergerak kembali ke arah pelempar?
Ciri pertama bumerang adalah paling tidak ia memiliki dua bilah yang bersatu, sehingga ia berputar di titik tengahnya, membentuk kestabilan geraknya selama berada di udara. Dua sayap yang digabung dalam satu benda inilah yang menjadi kunci dari jalur edarnya yang sedikit aneh--melingkar. Sayap-sayap bumerang didesain dengan sedikit sudut dan memiliki rongga udara di dalamnya. Desain detailnya serupa dengan desain sayap pesawat. Kalau lebih lanjut membaca bagaimana pesawat bekerja, kita akan tahu bagaimana desain ini memberikan daya angkat pada sayap itu.
Menarik bukan, sedikit menyelidik bagaimana manusia bisa membuat benda semacam returning boomerang ini, yang bisa bergerak kembali ke arah si pelempar. Kalau sedikit merenung lebih jauh, rupanya banyak kejadian hidup kita yang mungkin menginspirasi si penemu bumerang. Ingat kata mutiara ini, "Siapa yang menanam, dia yang akan menuai" ? Rupanya sunnatullah alam ini memang begitu adanya; kita akan mendapatkan kembali apa-apa yang kita berikan, entah itu kebaikan atau kah keburukan.
Al Fudhail bin Iyadh berkata, " Jika aku melakukan suatu maksiat maka aku akan melihat akibatnya dalam perilaku pembantu dan hewan tungganganku. " Tentu seorang Al Fudhail bin Iyadh tidak bertutur mengada-ada, tetapi pastilah merupakan mutiara hikmah kehidupannya.
Apakah Anda memiliki seorang ustadz atau ustadzah yang Anda belajar kepada beliau dengan rutin? Lalu pada saat yang sama, Anda juga membina beberapa orang yang mereka belajar kepada Anda secara rutin? Kalau iya, berarti kita memiliki kesamaan lagi. Aku pernah suatu ketika karena satu dan lain hal menjadi agak bandel dan nakal kepada ustadzahku, lalu itu berlalu selintas. Beberapa selang kemudian, aku menemukan seorang binaanku melakukan sesuatu yang nyaris serupa dengan yang aku lakukan kepada ustadzahku. Awalnya ingin tergoda untuk marah atau sekedar menegur dan menunjukkan bahwa ia telah berbuat salah, tapi kemudian sebuah kesadaran menyeruak, " She was so me! ", dia begitu aku. Rupanya Allah sedang menunjukkan kepadaku, begini rasanya, begini sedihnya.
Pernahkah suatu ketika, dihadapkan kepada sebuah kondisi rumit yang berulang-ulang? Berputar-putar pada problematika yang itu-itu juga; bergerak kemanapun serasa bergerak melingkar, kembali ke titik semula, kembali ke permasalahan yang sama. Sebenarnya, apakah hakikat problematika atau permasalahan itu? Ustadz Hidayat Rohim dalam acara mabit MQS ke-19 di Masjid Baitul Ihsan BI, 15 Juli yang lalu, memaparkan bahwa, meski sebuah kejadian itu sama, hikmahnya bagi masing-masing hamba Allah, bisa jadi jauh berbeda. Untuk orang-orang beriman permasalahan atau musibah adalah sebuah ujian, sementara untuk orang-orang yang lalai, itu lebih merupakan sebuah teguran agar ia kembali ke jalan Allah. Adapun untuk orang-orang yang durhaka, pastilah itu semua adzab Allah baginya.
Entah itu sebuah ujian atau teguran, memang rasanya Allah berhak untuk terus menerus mengulangi itu terjadi kepada diri kita sejauh Allah menilai kita belum benar-benar selesai, belum benar-benar lulus dengan baik. Tentu saja parameter baik tidak baik itu menggunakan standar Allah, bukan apa yang direka-reka manusia.
Pernah tahu tentang karma? Karma; what you give, you'll get back. Islam tidak meminta umatnya untuk beriman kepada karma. Boleh jadi, kita memang bahkan tidak perlu mengenal kosa kata ini sama sekali. Islam mengajarkan kepada kita untuk beriman kepada Allah, kepada Malaikat, kepada Kitab SuciNya, kepada RasulNya, kepada Hari Akhir, dan kepada Qadha dan Qadar, yang baik maupun yang buruk.
Kita wajib yakin dengan sebenar-benarnya bahwa setiap detil kejadian hidup kita adalah atas kehendak Allah. Semua sudah tertulis, pena sudah diangkat dan lembarannya telah kering. Sehelai daun pun, yang menguning kemudian jatuh gugur dari tangkainya, pasti telah tertulis rencana Allah untuknya. Lalu kita ini adalah makhluk Allah yang dibekali dengan akal dan qalbu; diberikan potensi untuk berpikir, merenung, menimbang baik dan buruk, mencoba memahami apa-apa yang Allah suka dan apa-apa yang Allah tidak suka. Kita boleh dan wajib menghitung diri; merenung atas semua fragmen kisah kita, kiranya apa yang Allah Kehendaki dariku kali ini.
Jika ada yang paling menginginkan kita untuk berhasil dunia dan akhirat, pasti itu adalah Allah; Dzat yang rahmat, nikmat, cinta dan karuniaNya tak mengenal batas. Allah telah menyiapkan untuk masing-masing kita sebuah jalan yang mungkin tidak mudah dan tenang, tapi Allah Menghendaki kita dengannya menjadi hamba yang semakin taat dan cinta kepadaNya, lalu hamba itu boleh asyik berharap dapat melenggang langkah ke surgaNya.
Imam Ibnu Al Jauzy berkata, " Jika Anda merasa jiwa Anda kotor, maka ingatlah bahwa ada nikmat yang mungkin tidak Anda syukuri atau Anda melakukan suatu kesalahan. " Jika ada yang tidak beres dengan hidup kita, pasti ada yang tidak beres juga antara kita dan Allah. Kita ini akan mendapatkan apa yang layak kita dapatkan. Jika keburukan yang kita lekatkan pada bumerang yang kita lemparkan, dari mana logikanya kita boleh berharap akan mendapatkan kebaikan bersamaan bumerang yang kembali kepada kita? Abu Ali ar Rudzabari mengingatkan kepada kita tentang ketertipuan, " Satu hal yang menandakan bahwa engkau sangat tertipu ialah tatkala engkau berbuat jahat, namun Dia membalasmu dengan kebaikan, namun engkau tak kunjung ingin bertaubat, dengan mengira bahwa dosa-dosamu bakal diampuni. " Na'udzubillah.Jika telah mengerti benar bahwa bumerang yang akan kembali tidak akan membawa kebaikan jika melemparnya tanpa lekatan ketulusan, mengapa masih menahan diri dari bersegera kepada kesungguhan taat kepada Allah SWT. Padahal Allah berfirman dalam hadits Qudsi, " Jika hamba-hambaku taat kepadaKu, maka akan Aku turunkan hujan kepada mereka di malam hari, Aku pancarkan matahari tanpa awan di pagi hari, dan tidak akan Aku perdengarkan gelegar guntur. " Ataukah kita ini masih ragu atas janji Allah, bahwa ketika kita mendekatnya sejengkal, maka Allah akan mendekat kita sehasta; jika kita mendekatNya sehasta, Allah akan mendekat sedepa; kalau kita berjalan mendekatNya, maka Allah akan berlari. Yuk, sama-sama kita siapkan bumerang-bumerang terbaik kita, dengan bahan baku pilihan dan perhitungan yang teliti. Lalu kita belajar bersama, bagaimana melemparnya dengan baik agar jalur edar lingkaran yang tercipta benar-benar akan mengarah geraknya kembali kepada kita. Kemudian kita akan sibuk menempelkan sebanyak mungkin kebaikan dan ketaatan pada bumerang itu dan... bismillah, bumerangnya terlempar dengan baik. Semoga edaran jalurnya tetap bersama edaran Islam, sehingga kelak kita akan menangkap kembali bumerang itu dengan kebahagiaan yang memuncak, karena Allah telah Ridha kepada kita. Allahumma Amin.
  | Cobaan | Jul 12, '06 10:32 PM for everyone |
~Ibnul Qayyim, Shaidul Khatir~
Cobaan terberat seseorang adalah jika ia tak merasa dirinya sedang mendapatkan cobaan, terlebih lagi jika ia sangat bergembira dengan cobaan itu. Cobaan pertama adalah berpaling dari kebenaran akibat kesibukannya dengan sesama makhluk. Adapun cobaan yang paling ringan bagi mereka adalah hilangnya kenikmatan dalam bermunajat dan kelezatan beribadah, kecuali bagi para lelaki dan wanita yang benar-benar beriman, mereka tidak merasakan hal-hal tersebut. Allah menjaga mereka. Keadaan batin mereka seperti lahirnya, bahkan lebih jernih lagi. Apa yang tersembunyi dari diri mereka tidak berbeda dari penampakan mereka, bahkan lebih indah lagi. Semangat mereka pun tinggi laksana bintang, bahkan jauh lebih tinggi.
Jika dikenal mereka menutupi diri mereka. Jika tampak kemuliaan mereka, malah mengingkarinya. Ketika manusia hanyut dalam kelalaiannya, mereka justru larut dalam kesadaran dan perenungannya. Mereka dicintai ole setiap jengkal bumi ini, sedang malaikat-malaikat langit membanggakannya. Kita memohonkan taufik Allah bagi para pengikut mereka, sambil kita memohon kepada Allah agar bisa mengikuti jejaknya.
Insan Rabbani: tetap belajar, tetap mengajarkan, Al Quran... " Akan tetapi (dia berkata), 'Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.' " QS. Ali 'Imran [3]: 79
Insan Rabbani; mengenakan pakaian kehidupan dengan kesadaran; mengetahui ia tidak datang dengan tiba-tiba; memahami kepada siapa ia akan kembali; mengenali dimana rumah keabadiannya; menyadari ia tidak diciptakan untuk sekedar makan dan minum, bersenda gurau, bermain-main, kemudian kembali menjadi tanah; " Katakanlah, 'Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Rabbku pada jalan yang lurus, (yaitu) jalan agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.' Katakanlah, 'Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).' Katakanlah, 'Apakah aku akan mencari Rabb selain Allah, padahal dia adalah Rabb bagi segala sesuatu?' " QS. Al An'am [6] : 161-164
Insan Rabbani: fitrahnya adalah iman kepada Allah swt; lapar dan haus sehingga menemukan Allah lantas beriman kepadaNya; tidak akan menemukan ketenangannya kecuali berlindung kepadaNya; " Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. " QS. Ar Ruum [30] : 30
Insan Rabbani; seperti seorang budak dengan satu tuan saja; menerima perintah dari satu tuan saja; " Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja). Adakah kedua budak itu sama halnya? " QS. Az Zumar [39] : 29
Insan Rabbani; bukanlah manusia malaikat yang bebas cacat; adalah manusia yang suka bertaubat; merasa menyesal jika berbuat salah; segera kembali kepada Allah jika berbuat maksiat; kadang dibayang syahwat haram lalu meninggalkannya karena malu kepada Allah; kadang dibayang harta haram lalu menolak dengan qana'ah--merasa puas; kadang dibayang kezhaliman lalu iman melarangnya dan sibuk mengingat Allah; kadang ia mampu di atas lawannya tapi tak serta merta memuaskan dendam; " Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. " QS. Ali 'Imran [3] : 135
Di dalam hati ini berantakan dan tidak akan terhimpun menyatu kembali kecuali menghadap Allah.
Di dalam hati ada keberingasan dan tidak akan dapat dihilangkan kecuali dengan turut mematuhi Allah.
Di dalam hati ada duka cita dan tidak akan sirna kecuali bersuka cita dengan ma'rifatullah dan tulus bergaul denganNya.
Di dalam hati ada kegelisahan dan tidak akan pernah tenang kecuali menyatu dengan Allah dan lari kembali kepadaNya.
Di dalam hati ada bara api kesedihan yang tidak akan dapat dipadamkan kecuali rela dengan perintah dan larangan Allah, qadha dan qadarNya, dan menggantungkan kesabaran hingga datang waktu perjumpaan denganNya.
Di dalam hati ada kebutuhan yang tidak akan dapat tertutupi kecuali dengan mencintai Allah, menggantungkan diri kepadaNya, terus berdzikir mengingatNya, benar-benar tulus ikhlas kepadaNya. Andai kata dunia dan semua isinya diberikan maka selamanya tidak akan dapat menutupi kebutuhan itu.
~~~Ibnul Qayyim~~~
Bagaimana jika bos kita selalu datang lebih pagi dan pulang lebih akhir dibandingkan kita? Kemudian ruangannya ada di tengah-tengah ruangan karyawan dan menggunakan kaca film (kaca riben) sehingga ia bebas melihat ke arah kita, sementara kita tidak mengetahuinya. Sementara kita tahu pasti karakternya adalah selalu memperhatikan--kalau tidak bisa dikatakan mengawasi--kinerja setiap karyawannya. Sebenarnya sulit juga memastikan bahwa sang bos ada di ruangan atau tidak, karena kebiasaannya yang datang awal dan pulang akhir, tapi tak seorang pun berani ambil resiko berasumsi bahwa sang bos bisa jadi sedang tidak berada di ruangannya--tidak sedang mengawasi dengan teliti pekerjaan karyawannya. Semua tampak hebat dan sempurna dengan bantuan si kaca film.
Efeknya apa ya kira-kira? Yang jelas semua karyawan pasti berpikir beberapa kali atau paling tidak sesama berkelesik bisik, "Eh, pak bos ada nggak?", setiap kali hendak mangkir. Walhasil, kinerja karyawan lebih terjamin bukan? Semua karyawan pasti termotivasi untuk lebih bisa menahan diri ketika tergoda melenceng dari jalur kerjanya. Sepertinya tampak nyaris hebat dan sempurna dengan bantuan si kaca film.
Jika dengan atasan, kita bisa saja seperti itu, kira-kira bagaimana selayaknya kita kepada Allah? Bukan saja kaca film, tetapi Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia, Hidup kekal lagi terus menerus Mengurus mahklukNya, tidak mengantuk, tidak pula tidur. Diajarkan kepada kita oleh Nabi kecintaan kita, Muhammad saw, hendaknya kita menyembah Allah seakan kita ini melihat Allah lalu kalaulah mata tak mampu melakukannya sesungguhnya Allah itu selalu melihat kita. Ini lah yang Nabi kita ajarkan kepada kita tentang IHSAN.
Daun mana yang gugur tanpa Allah Mengetahuinya? Dahan mana, ranting yang mana, yang Allah tidak mengetahui berapa banyak lembar daun padanya? Laut mana yang Allah alpa dari jumlah ikan-ikan di dalamnya? Rongga dada manusia yang mana yang Allah ragu akan banyaknya udara yang dapat memenuhinya? Perbuatan yang mana, yang baik kah atau yang buruk kah, yang bisa disembunyikan dari ketelitianNya?
" Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz). Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan. " QS. Al An'am [6] : 60
Benar-benar kesialan bukan, bagi orang-orang yang gagal menemukan pengawasan Allah dalam hidupnya, padahal Allah itu lebih dekat dibandingkan urat lehernya. " Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. " Al Baqarah [2] : 186. Kemudian orang-orang itu berlaku sekehendak hatinya di muka bumi.
Geli ya, sekilas mencermati gaya para foto model di depan kamera sang fotografer? Bergaya sedemikian manisnya demi jepretan kamera sang fotografer. Sebenarnya kita ini tidak kalah keren dengan mereka. Kalau mereka 'wajib' bergaya sekian detik untuk bidikan si juru foto, kita ini kalau benar yakin akan pengawasan Allah, wajib bagi kita bergaya full-manis di hadapan kamera Allah, tidak tanggung-tanggung: 7 x 24 jam! Nah, tugas besar kita hanya satu kok, bertarung dengan hawa nafsu sendiri dan godaan syetan la'natullah. Kalau orang Sunda bilangnya, pakuat-kuat; pasabar-sabar, siapa yang lebih kuat, siapa yang lebih sabar. Eh, jangan salah, syetan juga luar biasa sabarnya menanti detik-detik tergelincirnya kita. Na'udzubillah.
Coba kita bayangkan, kalau kita sungguh tulus bergaul dengan Allah, menikmati kebersamaanNya, dan berbahagia atas pengawasanNya, kapan kita berani menjadi pembangkang di hadapanNya? Rasanya tidak akan pernah bukan? Sementara kita juga meyakini bahwa hanya ada dua hal menjadi pilihan kita di ujung jalan kita, kenikmatan surgaNya atau adzab nerakaNya.
Tampak klise memang, meminta kita berubah perilaku dengan iming-iming surga dan ancaman neraka, tetapi ini benar adanya. Silakan bertanya kepada diri sendiri dan siapkan jawaban yang jujur.
Ibnul Qayyim berkata bahwa hawa nafsu manusia itu layaknya air, akan selalu mencari tempat yang lebih rendah. Setiap tetes air, dari mana pun gunung mata airnya, mengetahui bahwa ia harus pergi ke laut. Tetapi air bisa diangkat ke atas--manusia telah menemukan caranya--dengan bantuan pompa. Ini juga seharusnya bagaimana manusia memperlakukan dirinya; ia harus menemukan bagaimana mengangkat dirinya dari kerendahan menurutkan hawa nafsu. Janji surga dan neraka adalah salah satu pompanya.
Jika kaca film telah bisa menginspirasikan sebuah motivasi kerja, bukankah Allah Memiliki lebih dari sekedar kaca film untuk memotivasi kita? Jangan setengah-setengah menjadi baik; hati kita tahu Allah itu ada; kita pun yakin Allah Melihat kita dengan teliti!
Sedih ya ternyata... menemukan manusia-manusia yang lebih mencintai Allah dengan kecintaan yang lebih dalam dari kecintaan kita. Iri ya ternyata... menemukan manusia-manusia yang lebih Dicintai Allah. Sakit ya ternyata... menemukan manusia-manusia yang meng-infaq-kan hidupnya di jalan Allah lebih dari yang kita bisa. Takut ya ternyata... menemukan manusia-manusia yang melaju deru ke jalan langit sementara kita masih merangkak di sini. Mengalir juga air mata ini ternyata... merindukan pelukan langit dalam setiap jejak kaki di bumiNya. Astaghfirullah.... Ampun, Ya Allah... Ampun...
 |  | Alhamdulillah, LP3M Seruni bisa kembali mengadakan pelatihan untuk ibu-ibu dan remaja putri di Kelurahan Setiabudi, Jaksel, pada tanggal 4 Maret 2006 yang lalu. Bertempat di Aula SD Laboratorium UNJ PGSD, Setiabudi, kali ini LP3M Seruni dalam seri Pelatihan Ketrampilan Praktisnya memberikan pelatihan menghias kaos (bahan) polos dengan tajuk Cantik Unik Hiasan Kaos. Kaos atau bahan polos dapat dihias menjadi lebih manis dengan aksen dari bahan flanel atau dengan melukis bahan tersebut menggunakan cat tekstil.
|
| |